oleh

Vaksin Corona Belum Terjamin Kemanjurannya

Bersaing.comVaksin Corona Belum Terjamin Kemanjurannya, Pandu Rinono menyebutkan keamanan dan efikasi atau kemanjuran vaksin Sinovac belum terjamin, gara-gara mereka tetap merintis uji klinis vaksin fase ketiga, serta belum mengantongi izin dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).

Epidemiolog Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (FKM UI) Pandu Riono mewanti-wanti kepada pemerintah dan penduduk untuk tidak terlena euforia vaksin virus corona (Covid-19).
Hal ini merespons kehadiran kandidat vaksin asal China, Sinovac, di Indonesia pada Minggu (6/12) sebanyak 1,2 juta vaksin.

“Vaksin itu secondary prevention (pencegahan kedua) sementara primary prevention-nya (pencegahan utama) tetap berantakan. Yang aku heran, pemerintah tidak investasi bersama dengan memperkuat primary prevention, malah langsung lompat ke secondary prevention,” kata Pandu sementara dihubungi Bersaing.com, Senin (7/12).

“Seakan-akan vaksin ini deal usaha bukan deal efikasi,” imbuhnya.

Pandu menilai mestinya pemilihan vaksin dilakukan secara transparan dan memaparkan tingkat paling tinggi probabilitas keamanan dan efikasinya.

Pandu menyebutkan vaksin Sinovac singgah begitu saja, dan sejauh ini pemerintah tidak menyebutkan alasan mengapa pemerintah menentukan vaksin Sinovac daripada kandidat vaksin yang lain.

Padahal didalam perkembangan pengadaan vaksin, ada kandidat vaksin yang diklaim perlihatkan hasil yang amat positif dan lebih baik dari Sinovac. Seperti pengembang perusahaan Pfizer yang menyebut vaksin mereka 90 % efektif, dan Moderna yang mengklaim tingkat efektifitas sampai 94,5 persen.

“Efikasi [Sinovac] kemungkinan paling rendah dari kandidat vaksin yang ada,” kata Pandu.

“Tiba-tiba singgah vaksinnya di Indonesia, itu kan menyebabkan tidak kemungkinan BPOM tidak mengeluarkan izin pemanfaatan darurat atau EUA itu,” imbuhnya.

vaksin corona belum terjamin

Vaksin Corona Belum Terjamin Kemanjurannya Didalam Menuntaskan Covid-19

Menurutnya pemilihan kandidat vaksin virus corona sedari awal sebenarnya belum transparan. Pandu berpendapat, pemerintah seakan lebih mementingkan pengadaan vaksin untuk lekas membuka keran ekonomi tanpa membayangkan manfaat vaksin didalam melawan pandemi ini.

“Ini kelihatan kerja sama paling untung Indonesia, tanpa mengacuhkan apakah vaksin ini cukup efisien untuk mengendalikan pandemi. Efikasi tetap belum tahu, namun sudah ditetapkan semester ini berapa dan sebagainya,” jelasnya.

Pendapat senada disampaikan epidemiolog Universitas Airlangga Windhu Purnomo. Dia menilai efikasi kandidat vaksin Sinovac sampai sementara ini belum sadar gara-gara tetap melalui uji klinis vaksin fase ketiga.

Efikasi itu, kata Windhu, terletak pada bagaimana efektivitas vaksin didalam menangkal virus didalam tubuh sekaligus berapa lama jangkauan vaksin sanggup membentuk antibodi didalam tubuh.

“Pihak peneliti dari Unpad sebenarnya menyebutkan belum ada laporan yang negatif terlebih didalam perihal keamanan Sinovac, artinya kemungkinan akan lolos. Hanya yang jadi masalah itu yang kudu kami menyimak efikasi atau kemanjuran,” kata Windu kepada bersaing.com, Senin (7/12).

Sebab, sebagaimana diketahui, pelaksanaan penyuntikan vaksin atau vaksinasi akan dilakukan secara bertahap. Dengan analisis total 270 juta penduduk Indonesia, maka vaksinasi baru sukses rampung semuanya pada 1,5-2 tahun mendatang.

Berangkat dari perihal itu, Windhu menyebutkan target pemerintah untuk menciptakan herd immunity atau kekebalan tubuh grup akan sulit tercapai jikalau daya tahan antibodi tidak tahan lama di didalam tubuh manusia.

“Kita tidak sanggup mengimbuhkan vaksinasi sekaligus didalam satu sementara kepada banyak orang. Tentu kudu cukup panjang keberadaan antibodi didalam tubuh, atau kami tidak akan dulu raih herd immunity,” ujarnya.

Sebelumnya, Presiden Joko Widodo menegaskan vaksin virus corona, Sinovac, sudah tiba di Indonesia sebanyak 1, 2 juta vaksin. Jokowi mengimbuhkan pemerintah sementara ini juga tetap mengupayakan untuk mendatangkan 1,8 juta dosis vaksin. Diperkirakan vaksin berikut akan tiba Januari 2021.

Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto pun sudah menerbitkan Keputusan Menteri Kesehatan Nomor HK.01.07/ Menkes/ 9860/ 2020 perihal Penetapan Jenis Vaksin Untuk Pelaksanaan Vaksinasi Corona Virus Disesase 2019 (Covid-19).

Keputusan yang diteken Terawan pada Kamis (3/12) lantas itu memaparkan enam diktum, salah satunya Kementerian Kesehatan menentukan enam tipe vaksin Covid-19 yang sanggup digunakan didalam proses vaksinasi di Indonesia. Keenam vaksin berikut diproduksi oleh Bio Farma, Astra Zeneca, Sinopharm, Moderna, Pfizer Inc plus BioNtech, dan Sinovac Biotech.

Namun, didalam diktum keempat dijelaskan, Menkes berhak laksanakan pergantian tipe dari enam kandidat vaksin yang disebutkan didalam diktum pertama, jikalau mendapat himbauan Komite Penasehat Ahli Imunisasi Nasional, sekaligus menyimak pertimbangan dari Komite Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.