oleh

Misteri Penembakan Laskar FPI

-NEWS-6 views

Bersaing.com – Misteri Penembakan Laskar FPI masih terus diselidiki oleh bagian Komnas HAM dan akan diberitahukan setelah terungkap siapa dalang semua ini. sejumlah penjaga dan pedagang di warung yang berada di tempat peristirahatan (rest area) Km 50 Tol Jakarta-Cikampek, Desa Paseurjaya, Kecamatan Telukjambe Timur, Karawang, Jawa Barat, terkejut mendengar suara benturan keras pada Senin, 7 Desember 2020, pukul 01.00 WIB. Mereka terlihat berasal dari warung menuju sisi luar badan jalur tol untuk menyaksikan apa yang terjadi.

Rupanya suara itu berasal berasal dari wilayah yang berjarak 50-100 meter berasal dari pintu terlihat rest area. Tapi langkah mereka terhenti ketika sejumlah polisi menyingkirkan mereka supaya tak mendekat ke lokasi. Selain itu kendaraan yang ingin beristirahat di rest tempat Km 50 tidak diperbolehkan oleh petugas dan diperintahkan melanjutkan perjalanan.

“Kan aku ada di dapur. Cuma ada kayak mobil apa gitu. Kirain nabrak pembatas. Saya kan lari ke sana. Apa mobil terbalik, Ibu nggak memahami ada kejadian apa di depan. Saya menyaksikan ke sana, iya ada polisi pegang senjata itu. Semua orang dilarang kesana,” ungkap seorang penjual berinisial S kepada wartawan berita terbaru, Selasa, 8 Desember 2020.

Para pedagang itu tak memahami apa yang terjadi. Mereka baru memahami sesudah itu berasal dari televisi bahwa peristiwa tersebut rupanya penembakan pada enam bagian laskar Front Pembela Islam (FPI), yang menjadi pengawal spesifik rombongan Habib Rizieq. Rombongan itu dapat mengikuti pengajian keluarga di suatu tempat di Karawang.

Misteri Penembakan Laskar FPI Yang Menggunakan Mobil Chevrolet B-2152-TBN

Keenam pengawal yang manfaatkan mobil Chevrolet warna hijau metalik bernomor polisi B-2152-TBN tewas ditembak polisi berasal dari Polda Metro Jaya. Mereka adalah:

  • Andi Oktaviawan (33)
  • Ahmad Sofyan alias Ambon (26)
  • Faiz Ahmad Syukur (22)
  • Muhammad Reza (20)
  • Luthfi Hakim (25)
  • Muhammad Suci Khadavi (21).

misteri penembakan laskar fpi

Pada Selasa itu, pers berita terbaru hari ini menyaksikan wilayah penembakan tersebut. Namun, berasal dari pintu terlihat rest tempat Km 50 sampai 1 kilometer setelahnya, tidak terlihat bekas gejala berjalan baku tembak. Tak ada garis polisi dan tanda lainnya. Di dekat Km 51, terkandung permukiman masyarakat yang masuk Desa Sirnabaya, Kecamatan Telukjambe Timur. Namun tak satu pun warga yang mendengar tembakan pada dini hari itu.

“Hah… nggak ada. Saya nggak dengar. Kalau kejadiannya jam 01.00 WIB, aku kurang memahami termasuk atau aku tidur pulas mungkin,” kata seorang warga kebingungan. “mungkin, kalau yang lain ada yang mengetahuinya, akan tetapi tidak ada pembicaraan selanjutnya. Kalau di sini, kampung begini kan kalau ada apa-apa tentu ramai,” jelasnya lagi.

Setelah itu, tim berita hari ini mengunjungi rest tempat Km 57. Berdasarkan surat Telegram Rahasia Mabes Polri bernomor STR/873/XII/PAM.3.3/2020 tanggal 7 Desember 2020, wilayah penyerangan enam pengawal Habib Rizieq kepada polisi yang berbuntut penembakan berada di rest tempat yang terdapat di Desa Gintungkerta, Kecamatan Klari, Karawang, itu. Namun petugas keamanan rest tempat mengaku tak memahami perihal tersebut.

Beberapa gerai dan minimarket yang ada di wilayah termasuk tak memahami ada penangkapan, bahkan penembakan, di tempat itu. “Nggak ada, Mas, di sini aman sih. Memang ada apa ya? Yang aku tahu, terakhir ada sopir bus diciduk polisi karena narkoba,” ujar salah seorang karyawan minimarket itu.

Supervisor Costumer Service GT Karawang Timur Aji Wicaksono termasuk menyatakan hal yang sama. Bahkan sampai saat ini tak ada laporan berasal dari bagian Jasa Marga perihal perihal penembakan di lebih kurang tol Karawang. “Anak-anak nggak ada yang tahu. Kan kalau menurut berita, kan kejadiannya menjelang pintu tol ya, TKP kan nggak memahami terdapatnya di mana,” jelasnya saat ditemui wartawan berita di kantornya.

Menurut Aji, pintu tol di Karawang bagian timur ada dua, yakni pintu tol Karawang Timur dan pintu tol Kawasan Industri. Tidak ada laporan aksi kejar-kejaran antara pengawal Habib Rizieq dan polisi di ke-2 wilayah itu. “Nggak ada, barangkali menjelang, sanggup menjadi di luar, di arteri (jalan arteri). Ini kan berasal dari sini ke arteri hampir 1-1,5 kilometer,” imbuhnya. Aji memastikan, saat dirinya bertugas, CCTV berfaedah layaknya biasa. Kalaupun ada kejadian, itu tentu terekam.

Sedangkan berasal dari pantauan kami, di selama Jalan Tol Japek pada Km 50-57 terkandung 3-4 kamera CCTV. Tetapi PT Jasa Marga Tollroad Operator (JMTO) membuktikan CCTV di Km 49-72 mengalami masalah pada link jaringan backbone CCTV/Fiber Optic di KM-48+600 sejak Minggu, 6 Desember 2020, pukul 04.40 WIB. Akibatnya, jaringan CCTV berasal dari Km 49-72 menuju Cikampek offline.

“Mendapati laporan bahwa ada masalah, karena CCTV offline, namun petugas di ruas jalur Tol Jakarta-Cikampek melaporkan hal itu sejak Minggu (6 Desember 2020) pada pukul 06.00 WIB kepada tim inspeksi untuk sesudah itu melakukan penyisiran melacak penyebab kasus itu,” kata Direktur Utama PT Jasa Marga Tollroad Operator (JMTO) Raddy R Lukman, Selasa, 8 Desember 2020.

Hanya, lanjut Aji, melalui pesan group bagian Jasa Marga disebutkan, sempat menyaksikan banyak mobil ambulans yang lewat. “Namun tidak ada yang tau tujuan Ambulans tersebut, untuk bawa orang sakit atau apa, kami nggak tahu,” pungkas Ali.

Untuk melacak Info yang lebih jelas, para wartawan  mencoba menemui Kepala Polres Karawang AKBP Rama Samtama Putra. Sayang, Rama tak rela berkomentar bersama dengan alasan repot persiapan pengamanan pilkada. Begitu termasuk bersama dengan Kepala Subbagian Humas Polres Karawang Iptu Abdul Wahab tak sanggup menambahkan penjelasan.

“Jika ingin mendapatkan informasi lebih jelas, lebih baik langsung datang ke Polda Metro Jaya atau ke Mabes Polri. Dari Polda Jabar termasuk belum ada statement apa-apa. Jadi, terima kasih telah berkunjung ke sini, mohon maaf kami tidak sanggup menambahkan statement apa-apa,” kata Wahab saat ditemui di kantornya.

Seperti diketahui, pihak FPI dan Polda Metro Jaya sama-sama mengeluarkan pengakuan terkait perihal tersebut. FPI tetap yakin enam pengawal spesifik Habib Rizieq itu tak mempunyai senjata api, bahkan menyerang polisi. “Tuduhan yang di lontarkan kepada FPI bahwa para pengawal kami yang dipersenjatai adalah fitnah besar, bohong besar. Tidak ada satu pun pengawal kami yang dipersenjatai karena kami tidak dulu mengira kalau kami dapat diperlakukan layaknya itu,” kata Habib Rizieq.

Di sisi lain, Polda Metro Jaya menyatakan enam pengawal imam besar FPI itu terpaksa ditembak karena melakukan penyerangan terlebih dahulu kepada personel polisi. “Merasa dirinya terancam, karena diserang dan akhirnya polisi melakukan tindakan tegas dan terukur, supaya pada group yang diduga pengikut MRS yang berjumlah 10 orang, meninggal sebanyak 6 orang,” tutur Kapolda Metro Jaya, pada Senin 7 Desember.

Kasus penembakan enam bagian laskar FPI kini ditangani oleh Badan Reserse Kriminal (Bareskrim) Polri sejak 9 Desember 2020. Bahkan, Divisi Profesi dan Pengamanan (Propam) Polri saat ini tengah menginvestigasi tindakan bela diri bagian Polda Metro Jaya yang terkait penembakan enam bagian laskar FPI. Mereka dapat mengawasi, mengevaluasi bagian yang bertugas saat itu. “Semua tindakan yang ditunaikan oleh bagian dalam sidik ditunaikan pengawasan dan pengamanan oleh Divisi Propam. Semua itu ditunaikan supaya pengusutan kasus ini transparan,” kata Kepala divisi Humas Polri, Irjen Argo Yuwono, Rabu, 9 Desember 2020.

Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) termasuk telah membentuk tim penyelidikan atas kasus Misteri Penembakan Laskar FPI. Langkah pertama dapat menemui pimpinan FPI, para saksi, menyusuri tol Jakarta-Cikampek, termasuk menghendaki info berasal dari Polda Metro Jaya. Karena lumayan banyak yang dapat dimintai keterangan, tim penyelidik Komnas HAM ini perlu saat kurang lebih satu bulan.

“Mari kami sikapi bersama dengan kepala dingin untuk menyaksikan fenomena yang terjadi. Harapannya, ketika terkuak peristiwanya, harapannya memperterang kepentingan publik dan mempererat nilai kemanusiaan, bukan malah menjadi fragmentasi sosial,” kata komisioner sekaligus penanggung jawab tim investigasi Komnas HAM M Choirul Anam kepada pers trending topik, Rabu, 9 Desember 2020.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed